Beranda / Berita / Tim FMIPA UNSYIAH Perkenalkan Asap Cair

Tim FMIPA UNSYIAH Perkenalkan Asap Cair

Tim FMIPA UNSYIAH Perkenalkan Asap Cair

Dua mahasiswa Fakultas MIPA UNSYIAH, Khairul Rizky dan Khairun Amala, mulai memperkenalkan asap cair yang dihasilkan dari kompos sabut kelapa, sebagai bahan pengawet baru yang lebih ramah lingkungan.

Proyek penelitian dan pembuatan asap cair tersebut, membawa dua mahasiswa FMIPA ini memenangkan Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina 2012. Menurut Khairul, yang mengepalai proyek tersebut, asap cair tersebut dapat digunakan sebagai bahan pengawet alami untuk menggantikan formalin.

Selain untuk mengawetkan ikan dan daging, asap cair juga bisa digunakan sebagai obat penyembuh luka, campuran pakan ternak, antioksidan, dan pestisida.

Asap cair ini dihasilkan dari kompor sabut kelapa (Kosapa). Saat ini asap cair dijual dengan harga yang variatif, mulai dari Rp 30.000/liter sampai Rp 10 juta/liter, tergantung proses distilasi (penyaringan) yang dilakukan.

Khairul Rizky (Ketua Tim)

Untuk itu, tim peneliti Kosapa (Kompor Sabut Kelapa) yang terdiri atas Suhrawardi Ilyas PhD (sebagai dosen pembimbing), Khairul Rizki (Ketua tim), dan Khairun Amala (anggota tim), melihat peluang yang besar dengan pemanfaatan sabut kelapa sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah, LPG, dan arang.

Prototipe Kosapa dibuat dari pelat besi yang berbentuk kubus atau balok dengan leher angsa sebagai knalpot asap. Adapun suhu tertinggi yang pernah dicapai oleh Kosapa dengan 1 Kg sabut adalah 450 derjat celcius. Suhu ini lebih dari cukup untuk keperluan memasak, mengingat suhu yang dibutuhkan untuk memasak hanya berkisar 180-240 derjat celcius. Dengan alat itu, mereka mengkondensasi asap melalui knalpot asap yang sudah dirancang sedemikian rupa. Asap yang mengalir melalui knalpot yang direndam dalam air menjadi butir-butir air yang disebut asap cair. Asap cair yang dihasilkan untuk 1 kg sabut kelapa adalah 220 miligram (Mg).

Pembuatan asap cair menggunakan kompor sabut kelapa ini akhirnya membawa Khairul dan Khairun meraih juara II tingkat OSN Pertamina 2012, untuk kategori Science Project yang baru dibuka tahun ini.

Ada beberapa tahapan yang kami lalui untuk ikut seleksi kategori science project ini. Diawali dengan menyelesaikan makalah dan presentasi poster tingkat provinsi. Alhamdulillah, makalah kami terpilih sebagai salah satu dari 4 makalah terbaik regional 1, yang mencakup Sumatera Utara (Medan), Riau, dan Padang.

Khairul Rizky (Ketua Tim)

Selanjutnya, mereka pun harus melakukan presentasi via video conference dengan juri yang berada di Fakultas MIPA Universitas Indonesia, Jakarta.

Seleksi nasional yang mereka jalani sama halnya dengan seleksi sebelumnya, yakni melakukan presentasi poster di hari pertama dan presentasi power point project di hari ke-3.

Alhamdulillah, kami dinobatkan sebagai Juara II Nasional Kategori Science Project ini.

Khairun Amala (Anggota Tim)

Manfaat Asap Cair

Khairul dan Khairun menjelaskan lebih rinci tentang manfaat asap cair yang dihasilkan dari proses kondensasi (pengembunan) asap dari pembakaran sabut kelapa. Di antaranya sebagai pengganti formalin, pengawet makanan (mie, bakso, tahu, dan udang), pengeras karet, penyamakan kulit, pengawet kayu, antirayap dan desinfektan.

Menurut mereka, asap cair memiliki banyak manfaat dan telah digunakan pada berbagai industri. Seperti di industri pangan, dimana asap cair mempunyai kegunaan yang sangat besar sebagai pemberi rasa dan aroma yang spesifik juga sebagai pengawet karena sifat antimikroba dan antioksidannya.

Asap cair juga dapat menggantikan proses pengasapan ikan secara tradisional yang sebelumnya langsung diberi asap, sehingga dapat mengganggu lingkungan. Selain itu, asap cair dapat digunakan pula pada food processing seperti tahu, mi basah dan bakso. Di industri perkebunan, asap cair dapat digunakan sebagai koagulan lateks dengan sifat fungsional asap cair seperti antijamur, antibakteri dan anti-oksidan, yang dapat memperbaiki kualitas produk karet yang dihasilkan.

Sebenarnya, senyawa formaldehid yang terkandung di asap cair ini telah lama dimanfaatkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia untuk mengobati sakit gigi, segala macam sakit kulit yang disebabkan oleh jamur, virus, bakteri dengan cara mengoleskan pada bagian yang sakit untuk mencegah penyakit kutu air akut, panu, kadas, kurap, herpes, dan diabetes. (yat)


Sumber: Serambi Indonesia